Saturday, August 13, 2016

Stealing

I’m dying to call you
    But I’m afraid that I will disturb you
    I know you’re working on something
   
But I’m just dying to hear your voice
    Is that a crime?
    Is that a sin?

Because stealing your time
    Is the only thing I could do
    If your heart is untamed

Stealing

I’m dying to call you
    But I’m afraid that I will disturb you
    I know you’re working on something
   
But I’m just dying to hear your voice
    Is that a crime?
    Is that a sin?

Because stealing your time
    Is the only thing I could do
    If your heart is untamed

Monday, August 1, 2016

Stormset

Sunset is not showing up today
Maybe the Sun is bathing behind the curtain of rain
You're hoping for sunset but day gave you storm, don't storm out and don't storm in
Maybe the Sun is cleaning up and a bit shy
You're hoping for sunset but damn there's a storm
Don't lose hope don't lose your self

There's tomorrow await

Sunday, June 5, 2016

Screen lock

A friend of mine
Ask me
Why I put your picture
In my screen lock
In that picture
You put your head down
On the table
You were sleepy at that time

A friend of mine
Ask me
Why don't I put your face
In my screen lock
But your head down picture

Because
I want to
Stroke your hair
Everytime

Saturday, May 28, 2016

Cross Road

If it happens to us to find a cross road
A very last cross road
I'd love to invite the storm, earthquake, tornado and thunder
To join us
So I can be with you
A little bit longer

Friday, March 25, 2016

Tatap Mata

Adapun doa yang diam-diam mengalir
Seperti puisi rahasia
Membumbung ke langit-langit
Akan terlambung banyak-banyak

Agar bertautan mereka di atas sana
Dan berlipat ganda

Agar mereka berkumpul
Menjadi satu

Agar tatap mata ini segera bertemu

Tuesday, December 29, 2015

I Never Imagined

I never imagined to have a life like yours
To be gloriously independent
You do all things by yourself
It was almost everything

I never imagined to have a heart like yours
Solemnly raised your love
In wounds beautifully

I lost my words about you
And everything you did
Secretly inspired me
I am too scared to stand by your side

Because I have nothing
Strong enough to you
Nothing
Sincere enough compared to your love

But in heaven, they said,
They will fulfill your happiness
Rejoice your life
Touch your wounds with silk and flowing love
Like an endless river

I swear for the rest of my life
To flowering your name

Desember, 29 2015

Thursday, December 24, 2015

A Broken Piece

Akhir dari perjalanan live-on-board tahun lalu ditutup dengan sesuatu yang tidak biasa. Kami disambut dengan rumput yang mulai hijau dengan bibir pantai yang tetap biru di Pulau Rinca. Takut-takut masuk ke pulau yang dihuni oleh kadal raksasa, kami melapor ke pos penjagaan untuk membayar retribusi dan yang lebih penting segera mendapatkan pendamping trip di pulau tersebut. Para pendamping ini biasa disebut ranger. Setiap rombongan wajib didampingi dua orang ranger, satu orang di depan rombongan, satu orang lainnya di belakang.

Salah satu ranger yang mendampingi kami sangat menarik perhatian saya dari pada komodo-komodo di sana. Beliau mengenakan kalung berwarna biru seperti ombak di laut. Kalung itu diikat dengan tali biasa. Bentuknya pun seperti ombak. Penasaran dengan kalung tersebut, saya mulai bertanya.

“Pak, kalungnya bagus.” Tentu saja dengan nada manja sambil senyum-senyum. Respon ranger ini tidak terduga.

“Oh, kalung ini? Ibu mau?” tanya beliau.

“Ya kalau dikasih ya saya mau,” senyum semakin lebar.

Kalung itu ditarik dengan mundah, meninggalkan leher ranger itu dan berpindah ke tangan saya.

“Ini buat Ibu. Anggap saja kenang-kenangan dari Rinca supaya kembali ke Rinca. Itu juga saya nemu kok di pantai. Lagi pula itu sudah patah. Ga tau deh itu tadinya apa, cuma saya punya tali jadi saya jadiin kalung saja.”

Saya menerimanya dengan sumringah tidak peduli dengan kondisi kalung tersebut.

“Terima kasih banyak ya Pak! Ikhlas Pak?”

“Sama-sama, Bu. Ikhlas kok, Bu.”

“Sampai jumpa lagi Pak.” 




Pembicaran kami berhenti di situ. Saya langsung mengenakan kalung tersebut. Karena talinya cukup pendek,saya mengikat dengan simpul mati pas di lingkar leher saya. Di perjalanan saya menyadari bahwa kalung tersebut hanya terbuat dari plastik, salah satu sisinya memang terasa bekas patahan jika diraba dan diteliti.

Itu hanya sebuah potongan biasa dari entah apa yang diberi tali lalu melekat pada leher saya selama satu tahun ini. Namun, saya melihatnya sebagai sesuatu yang sempurna apa adanya. It fits on me.  Begitu juga orang lain yang melihat saya menggunakan kalung ini. Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang cantik dan indah.

Tidak ada yang tahu apa bentuk sebelumnya dari potongan ini. Tidak ada juga yang tahu kalau potongan ini merupakan patahan dari sesuatu yang mungkin sudah dibuang oleh pemilik sebelumnya. Tidak ada yang tahu juga sudah berapa lama potongan ini berada di pantai atau bahkan mungkin pernah mengapung lama di lautan. Yang orang tahu sekarang adalah benda ini adalah kalung yang tidak pernah lepas dari leher saya.

Kamu bisa saja merasa sudah rusak. Kamu bisa saja merasa sudah tidak berguna dan tidak dibutuhkan. Kamu bisa merasa terbuang, terapung-apung dan tidak tahu mau berbuat apa. Namun, nyatanya di luar sana, entah ia datang dari mana, ia akan menemukanmu dan melihatmu sempurna sejak awal. Ia akan memiliki keberanian untuk menerimamu apa adanya, tidak peduli dengan patahan atau kerusakan yang sudah kamu alami. Bahkan, ia akan membuatmu bernilai lebih jauh berharga daripada bentukmu di masa lalu. Ia akan bangga mengenalkanmu kepada siapapun sebagai seseorang yang sangat istimewa. Dan sejak awal, dia akan dengan sangat yakin memberikan tempat terbaik untukmu, di hatinya.

Ia bisa jadi siapapun. Bisa jadi sahabatmu, kakakmu, adikmu, kekasihmu, anakmu. Ia adalah siapapun yang membuatmu merasa berharga sebagai dirimu sendiri, serusak apapun dirimu.



They will always make you feel special, put you in their special place, treat you with a special thing, even though you and the whole world know that you’re a broken piece of something.

Sunday, December 20, 2015

Di Desember

Dari setiap hujan di musim hujan
Hanya satu yang aku tunggu
Di bawah remang lampu
Yang sudah menyala tiga jam lalu
Adalah langkahmu
Menuju teras rumahku dengan pasti
Adalah langkahku
Siap meniti berdampingan
Kemanapun arah kita nanti

20.12.15

Sunday, November 15, 2015

Senyum Kue Coklat

Ini, sepotong senyum dari malamku yang basah
Untuk kamu 
Yang membuatnya secantik kue coklat di hari natal 
Makasih ya..

Saturday, November 7, 2015

Kena, deh!

Rindu itu datang mengendap-endap
Berjingkat-jingkat pada malam hari
Dan mencekikmu dari belakang
Saat kamu sedang mengaduk segelas kopi
Di keesokan pagi
Bahkan saat kamu belum ingat untuk pakai celana

08.11.15
~sekarsarkara

Anti Thesis

Karena sibuk itu hanya alasan
Maka rindu bisa jadi anti thesis

Saturday, October 31, 2015

Eternity

No wonder that you never come back

Because you never leave ❤

Sunday, October 25, 2015

Apa Adanya

"Kamu kok ngopi terus sih?"
"Kalau sendiri lebih enak ngopi. Kalau ngopi lebih enak sendiri."
"Emang kalau rame?"
"Hm? Kalau pahit ditelen sendiri lebih enak."

--

"Karamel atau hazelnut?"
"No flavor. No sugar, please."

Dia bahkan tidak menanyakan hot or cold. Barista itu hanya terpaku dan mengangguk. Saya memberikan kesempatan pada intuisinya untuk bekerja tanpa bertanya dan menentukan sendiri cappuccino itu panas atau dingin.

Yang datang ternyata panas. Saya tersenyum memandangi foam di atasnya. Bentuknya hati. Saya menyesap, mengecup lebih tepatnya, dari sudut hati. Niatnya supaya bentuknya tidak rusak. Sendok di samping hanyalah formalitas. Gula hanya persona. Perasa ibarat make up. Kopi dengan susu saja sudah dosa. Apalagi dengan yang lain.

Saya suka mengecup cappuccino saya. Indah. Lembut. Hangat. Tetap pahit.

Apa adanya.

01.12.13

Sunday, October 18, 2015

Diajeng

Diajeng,
Kala bayanganmu menyelinap pergi 
Mentari mencari-cari 
Jejakmu Bunga melati

Diajeng, 
Tanda salib di dahi mungkin tidak lagi berarti 
Namun percayalah buah hati
Hanya ini yang mampu kuberi

Diajeng,
Tak ada lagi selamat pagi
Hidupmu adalah mimpi
Oh, diajeng masih percayakah kau pada peri

Diajeng,
Kapanpun kau merasa letih

Akan tanjakan-tanjakan tinggi
Akan gunung yang harus kau daki
Angin, ombak dan badai yang silih berganti 
Jangan pernah hilang untuk kembali

Diajeng,
Ibumu tua dan menanti.

~sekarsarkara
19.10.15

Gajah Wong

Wednesday, October 14, 2015

Tokoh Utama

Jutaan kata disusun-susun untuk mewakili indahnya cinta. Namun, tidak ada yang lebih indah dari pada merasakannya sendiri, kehilangan, menemukannya lagi, dan mengenang kisah tersebut dengan tokoh utama kisah tersebut.

Tuesday, October 13, 2015

Jauh

Karena yang aku kerjakan saat pikiranku tidak bisa mengenyahkan sosokmu hanyalah satu. Menikam mataku dengan tulisanmu bertubi-tubi. Hingga lelah ia terbuka dan hari berganti pagi.

Jadi, aku sedikit ingin memohon padamu, untuk terus menuangkan isi kepalamu di atas apapun itu. Hanya dengan begitu, kamu bisa berada di dalam satu ruang denganku, meski hanya di kepalaku.

Kadang juga, aku tidak habis pikir dengan kata rindu. Bagaimana sebuah kata yang sederhana mewakili rasa yang jauh dari sederhana? Seperti perasaan menyelam di malam hari, bertemu penyu-penyu tua dalam arus deras, sambil berusaha membuka bungkus permen karet yang tidak bisa dimakan saat itu juga. Seperti itulah rindu, antara indah, lucu dan berbahaya. Salah-salah bisa mati konyol juga aku dibuatnya.

Jadi, aku pikir, satu-satunya cara aman untuk mengatasi perasaan tersebut adalah dengan tulisanmu yang juga selalu jauh dari sederhana sehingga aku seperti mempunyai tenun yang indah dari perasaan yang kusut dan kata-kata yang menikam tajam.

~sekarsarkara
13.10.15

Friday, October 9, 2015

Bira Biru

Aku menggelinjang setiap kali mendengar namamu
Merasakan tubuhku berada di dalam dirimu
Yang selalu dingin dari terik mentari

Aku pernah menghadirkan dirimu di setiap mimpi malamku yang basah
Bertanya-tanya akan kemungkinan yang tidak ada

Aku membisikan namamu
Pada air yang mengalir mengisi bibir pantai yang pucat
Agar tiba detak jantungku di telapak kakimu

Aku menghembuskan nafasmu
Pada angin yang berlari ke selatan
Agar sampai pelukku lagi di tengkukmu

Bira, 9 Oktober 2015
~ sekarsarkara

Thursday, September 24, 2015

Maya

Maya,
Jika kau berangan,
merajah tiap jengkal porinya,
Merasakan sela-sela jarimu di rambutnya yang hitam,
Yang membungkus pikiran-pikiran yang lebih keras dari tempurungnya.

Maya,
Jika kau berandai,
Menantikan matahari terbit setiap pagi,
Dari kelopak matanya yang sedikit berkerut
Yang memancarkan Sinar kehidupan bagi hatimu.

Maya,
Jika kau mencoba,
Memiliki hidupnya dengan kata-katamu,
Untuk dia yang tidak bertelinga.

~sekarsarkara
25.09.15

Tuesday, September 22, 2015

Doa

Kata terucap doa
Seperti mantra seperti sloka

Mengapa kata disebut doa? 
Apa makna dari kata yang menjadi doa?
Apa beda dengan kata yang berbunyi dusta?
Apabila keluar dari mulut yang sama

Tidak semua manusia butuh doa
Tidak semua manusia sanggup menghadapinya

Manusia berbalas doa
Pun jua bertukar dosa
Mereka bilang apa lagi yang lebih bijak dari sepucuk doa
Untuk penghianat yang tercinta

Dekat dengan surga
Tidak terlalu jauh dari neraka

Apa kerjamu hanya berdoa?
Setelah seharian penuh bekerja?
Apa doamu adalah kerja?
Sehingga seolah-olah kau lakukan dengan suka?

Apa bedanya satu dengan seribu doa?
Apa samanya doa dengan dusta?

Jika hidupmu adalah fana

~sekarsarkara
22.09.15